Malam ini terasa begitu sulit , saat
kau tak ada di sini dan selalu tak di sini . Ingin ku meneteskan air mata untuk
menunjukan betapa hati ini menginginkanmu . Setiap langkah yang dapat ku tempuh
selalu engkau yang ku harap hadir .
Tuhan apa salahku hingga aku begitu
terluka sekarang ...
aku ingin tuhan merasakan indahnya
di cintai
bersama nya ...
dan terus bersamanya
Mungkinkah
akankah kau
melihat ke arahku
aku harap
begitu
telah letih
aku menanti
mencoba
bertahan untuk melupakanmu
but I can't
selalu memikirkan tentangmu
berharap kau datang ke padaku
melihat ke arahku
karena aku lah yang selalu menantimu
di sini
aku lah yang
selalu menantimu
aku lah yang
selalu berfikir tentangmu
setiap jejak
mu selalu ku ingat
memikirkamu
semakin membuatku terluka
kapankah
tuhan akan memberikan jalan agar kita bisa bersama
Malam
yang dingin semakin mencekam. Kini
keluarga Bambang sedang duduk terdiam di ruang keluarga. Semua anggota keluarga
diam, sesekali mereka saling pandang namun tak kunjung bicara. Sepertinya ada
sesuatu hal yang terpendam di masing-masing anggota keluarga.
Ayah
yang duduk berdampingan dengan ibu hanya terus menghisap rokok di tangannya.
Ibu yang hanya duduk diam, matanya tampak berkaca-kaca dengan segurat kemarahan
yang terpendam. Kakak yang duduk berseberangan dengan ayah pun turut diam,
suasana di ruangan itu semakin mencekam.
Lia
yang duduk menyendiri, hendak beranjak dari bangkunya karena bosan dengan
kesunyian ini tiba-tiba terhenti setelah ibu berbicara.
“
Lia ,” kata ibu dengan nada kesal
“
iya, kenapa Lia harus tetap duduk di sini dengan segala kekakuan ini. Lebih
baik Lia tidur. ” katanya sambil membaca sms di handphone nya
“
Baiklah, sekarang duduk” Ayah menengahi
Kemudian
Lia duduk kembali
“
besok Lia pindah ke rumah nenek di kampung , masuk pesantren di tempat Ayah
dulu sekolah. Tidak ada hape, laptop, i-phone, mp3 dan segala fasilitas yang
yang kamu miliki sekarang. ” kata Ayah dengan tegas
“
enggak, Lia nggak mau. Kenapa Lia harus pergi? Ayah dengan ibu sudah bosan
ngurus Lia. Kalo Ayah dengan Ibu udah bosan ngurus Lia, biar Lia tinggal
sendiri aja “ bantah Lia
Ibu
yang awalnya dapat menahan kemarahannya kini tidak dapat terkontrol lagi.
“
tidak ada pilihan lagi buat kamu. Lia nggak mau pergi, Lia nggak usah jadi anak
ibu lagi “ kata Ibu yang disusul tetesan air mata
“
emang Lia bukan anak Ibu nggak mungkin kalo Lia anak Ibu, Ibu terus saja
marah-marah sama Lia, sama temen-temen Lia
dan juga bakar semua baju Lia.” Kata Lia dengan ketus
“
Lia !!” Bentak Ayah
“
kenapa semua orang di rumah ini selalu nyalahin Lia, Lia nggak salah apa-apa.
Kenapa semua begitu berlebihan menyikapi tingkah Lia. Emang salah kalo Lia
pulang pagi karena ngumpul-ngumpul dengan temen Lia?. Semua orang tua temen Lia
fine-fine aja, nggak ada masalah. Kenapa keluarga ini repot banget.” Celoteh
Lia
“
sudah cukup Ayah menjelaskan semua alasan kenapa kamu nggak boleh pulang pagi
dan segala hal-hal tentang pergaulanmu yang kacau itu. Sudah cukup Ayah ngasih
pilihan agar kamu bisa berubah, udah cukup kesempatan Ayah dan Ibu kasih buat
kamu. Cukup kesabaran Ayah untuk kamu, kamu pergi besok pagi ke rumah nenek.”
Ayah memberi keputusan
Kemudian
Ayah dan Ibu pergi meninggalkan ruang keluarga. Lia dan kakak tetap duduk di
ruang keluarga saling menatap dengan tatapan dingin.
“
dek , jangan sampai saat kamu menyadari kesalahan kamu dengan Ayah dan Ibu
semua sudah terlambat.” Kata Kakak
“
udak deh. Nggak usah nambah-nambahin” kata Lia dengan congkak
“
dosa kamu udah terlalu banyak dek, terutama dengan ibu . Jangan sampai Allah
nggak akan ampuni kamu, karena Ibu tidak mau lagi membuka pintu maaf padamu.”
Kakak mencoba menasihati
“
what ever!!!!!!!!!!!” celoteh Lia
Kemudian
Lia pergi ke kamarnya, di benak Lia kini ia sedang memikirkan bagaimana alasan
agar dia tidak pindah ke tempat neneknya. Sampai pada akhirnya pukul 3 pagi,
dia kabur dari rumah. Di dalam fikirannya, mungkin orang tuanya akan mengalah
setelah Lia kabur dari rumah.
Kini
Lia sedang berada di beranda rumah kekasihnya, setelah berhasil kabur dari
rumah dia berharap kekasihnya dapat memberikan tumpangan selama dia kabur dari
rumah. Namun saat dia masuk ke rumah kekasihnya, dia dikejutkan dengan mendapati
keadaan kekasihnya sedang pesta narkoba. Lia yang merasa ketakutan, berlari
meninggalkan rumah kekasihnya tersebut.
Tidak
di sangka, bandar narkoba yang mengetahui keberadaan Lia mengejarnya. Lia yang
ketakutan, terus berlari hingga dia tidak menyadari bahwa ada mobil melintas di
jalan yang ia lalui. Lia tertabrak mobil, bandar yang melihat banyak orang yang
berkumpul untuk menolong Lia kemudian kabur, karena takut ketahuan identitasnya
sebagai bandar diketahui orang-orang yang berkerumun itu.
Keberuntungan
mungkin masih bersama Lia. Setelah berhasil kabur dari rumah dan dari bandar
yang mengejarnya, kini dia berhasil selamat dari maut. Namun keberuntungannya
itu harus dibayar mahal dengan kehilangan satu mata indahnya serta separuh dari
wajah mulusnya.
Saat
melihat keadaannya sekarang, Lia menjadi histeris di dalam fikirannya hanyalah
penyesalan. Mengapa dia kabur, mengapa dia tidak mendengarkan perkataan orang
tuanya. Lia yang sedang merasa putus asa, mencoba untuk menghubungi orang
tuanya. Karena dia tidak membawa handphone, dia meminjam handphone dari seorang
bapak tua yang ada di bangsal bersamanya. Mungkin semua terasa begitu mudah
untuk Lia ingin menghapus kesalahan terhadap orang tuanya,tapi tidak pada
kenyataannya dari sini lah dia harus belajar arti berjuang dalam hidup. Bukan
dipinjamkan handphone, malah bapak itu memberikan sebuah tas pada Lia.
“
pak, saya mau pinjam handphone. Kok di kasih tas ?” tanya Lia kebingungan
“
itu imbalan untuk kamu, atas semua perbuatanmu” kata bapak itu yang kemudian
tersenyum sinis kepada Lia
Lia
yang kebingungan kemudian ingin mengembalikan tas itu, namun bapak itu malah
menolak dan pergi keluar ruangan perawatan di rumah sakit. Lia membuka tas itu
, isinya hanyalah beberapa lembar kertas dan kaset.
“apa
pentingnya benda ini? Dan kenapa ini menjadi pembalasan untukku ?” Lia bertanya
di dalam hati
Tak lama kemudian Lia mendengar suara
tembakan. Lia yang terkejut , kemudian berlari menuju pintu untuk melihat apa
yang terjadi.Melalui kaca pintu ruangan tempat dia dirawat dia melihat bapak
yang bersamanya tadi sedang tersungkur di hadapan seorang wanita yang
menodongkan senjata kearah bapak itu.
“
di mana ?” tanya wanita itu
“
di hatiku” kata bapak itu dengan tertawa
Wanita
itu tampaknya di penuhi dengan kemarahan dan tanpa segan wanita yang mengenakan
setelan hitam itu menembak kaki kanan bapak itu. Suasana di rumah sakit menjadi
kacau orang-orang yang mulanya diam kekakutan, kini berteriak histeris. Asisten
wanita itu mengusir orang-orang yang
hendak menolong bapak itu.
“
geledah kamar itu” perintah wanita itu kepada asistennya yang bertubuh kurus
serta mengenakan kacamata
Pria itu memasuki kamar di tempat Lia
berada. Lia yang sebelumnya mengetahui pria itu akan masuk sudah bersembunyi
terlebih dahulu di dalam toilet. Semua rasa berkumpul di dalam hati Lia, namun
rasa ketakutanlah yang menguasai Lia.
Tak lama kemudian pria itu keluar dari kamar itu dengan membawa tas yang di
berikan bapak tua itu kepada Lia di tangan kirinya, dan Lia menyusul di
belakang. Bukan niat Lia,untuk menyerahkan dirinya bersama tas itu. Tapi dia
tidak mempunyai pilihan karena pria itu menodongkan senjata ke kepala Lia.
“singkirkan!!!!!!!!!”
perintah wanita itu kepada pria berkacamata yang mencengkram lengan Lia
“
terimalah ini, sebagai pembalasan mu” kata bapak itu kepada Lia
Lia yang ketakutan kini menangis, dia
merasa terjebak. Kenapa bapak itu selalu berkata pembalasan, Lia tak mengerti
maksud dari perkataan bapak itu. Malang bagi bapak tua itu setelah mengucapkan
kata-kata ngawur , kepalanya di
tembak wanita bersenjata itu. Tubuh bapak itu jatuh bersimbah darah.
Segerombolan orang bersenjata
menyadera Lia. Polisi yang hendak menolong Lia pun harus merelakan nyawanya
hilang dengan percuma. Lia masuk ke dalam mobil bersama segerombolan orang
bersenjata itu, tanpa canggung orang-orang itu memperlihatkan senjatanya memberi
tanda mereka tidak segan untuk “menyingkirkan” orang yang ingin menghalangi
mereka.
Saat di perjalanan yang entah kemana
tujuannya wanita berpakaian hitam itu, mengikat tas yang diambil paksanya tadi
ke tubuh Lia. Lia yang berada di bawah tekanan, hanya bisa menurut. Tibalah
mereka di jalan lintas provinsi yang sepi. Lia diturunkan dan di ikat di sebuah
pohon. Seorang wanita yang memakai rompi kulit menyiramkan bensin ke tubuh Lia,
saat hendak membumi hanguskan Lia polisi dengan persenjataan lengkap muncul
mencoba menyelamatkan Lia.
Saling adu tembak pun terjadi, dengan
mengabaikan nyawa masing-masing, mereka tak segan meluncurkan peluru dari
senjata mereka. Seorang polisi wanita melepaskan ikatan Lia namun malang nasib
bagi polwan itu, setelah berhasil melepaskan ikatan Lia dari pohon nyawanya pun
ikut “lepas” tertembak peluru. Saat tubuh polwan itu rubuh, tubuh Lia ikut
rubuh tertimpa tubuh polwan itu. Tubuh Lia terguling jatuh ke dalam jurang.
Untuk beberapa saat Lia tidak sadarkan
diri, suara adzan menyadarkan Lia dari “tidurnya”. Lia bersyukur nyawanya masih
bisa selamat. Lia mencoba bangkit, untuk mencari pertolongan. Belum sembuh lagi
wajah Lia yang terluka kini kaki kirinya ikut tidak berfungsi dengan baik.
Cukup lama Lia berjalan sampai menemukan pemukiman warga. Lia tertatih menuju
masjid, belum sempat dia melepas lelah seorang penjaga masjid datang
menghampirinya dengan membawa sapu di tangan kirinya.
“
hus.hus...hus.” bapak itu mengusir Lia, dengan memukul badan Lia menggunakan
sapu
“
kenapa pak ?” tanya Lia
“
hus,, sana orang gila!!!!!” kata bapak itu
“
saya nggak gila pak, saya habis di culik” jelas Lia
Namun bapak itu tidak mau mendengar,
malah kepala Lia menjadi sasaran batu yang di lempar bapak itu. Lia kini hanya
bisa menangis, kenapa di saat membutuhkan pertolongan tak ada satupun orang
yang mau menolong. Lia bertemu dengan gadis yang sebaya dengannya di jalan. Belum
sempat Lia mengutarakan niatnya, gadis itu sudah berteriak ketakutan.
Orang-orang yang mendengar jeritan gadis itu berdatangan dan mengusir Lia tak
segan-segan bongkahan batu kini terarah kepadanya.
“
orang gila, orang gila, orang gila” sorak segerombolan anak SD yang turut
mengusir Lia
Tak
ada pilihan bagi Lia, selain pergi dari pemukiman itu. Yang Lia lakukan kini
hanya berjalan tanpa tahu arah ke mana ia menuju. Setiap orang yang ia jumpai
selalu melakukan hal sama yaitu mengusir Lia, karena Lia diangggap orang gila.
Malam
kini hadir, dingin membungkus tubuh Lia, darah yang keluar dari luka-luka yang
diterima Lia kini mengering sendiri. Lia putus asa tidak ada tempat lagi untuk
dia meminta tolong, tidak ada lagi peluk hangat dari ibu saat Lia sakit tak ada
keluarga yang akan menolongnya saat dia butuh. Kini dia hanya berteman bintang
dan kesepian. Tubuhnya yang mengalami luka parah hanya mampu bersandar di
dinding toko di pinggir jalan.
Tiba-tiba
seorang ibu datang menghampiri Lia
“
aduh, kasiannya. Kamu pasti tersesat mari ibu bantu “ kata ibu itu kepada Lia
Lia yang merasa diberi anugerah
pertolongan, dengan semangatnya mau di tolong oleh ibu itu. Lia di ajak ke
sebuah salon untuk membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya. Setelah
bersih dan luka-lukanya telah di balut, Lia di ajak ke sebuah restauran untuk
makan. Lia di minta duduk di meja yang sudah di pilih, sementara Ibu itu
memesan makanan. Tak lama kemudian sekelompok orang datang menghampiri Lia.
“
ingat kami gadis kecil ? ” tanya wanita yang mengenakan rok mini
“
kamu pasti terkejut dengan kedatangan kami, kami pun terkejut saat kau sudah
melihat isi tas itu. Karena kau sudah memilih untuk membuka tas itu, tak ada
lagi pilihan untukmu “ jelas seorang pria yang mengenakan topi
Ternyata mereka adalah orang yang
ingin membunuh Lia tadi siang. Saat pelayan datang memberikan makanan, Lia
berfikir ada harapan untuknya agar bisa selamat dari orang-orang jahat itu.
Namun keadaan sebaliknyalah yang didapatkan Lia.
“
mangsa baru” kata pelayan itu sambil menaruh makanan
Wajah Lia yang semula penuh harap,
kini berubah menjadi pupus semua yang dia harapkan berbalik menjadi hal yang
tidak ia inginkan. Lia kini hanya bisa menangis dan menangis lagi, tidak ada
harapan baginya. Kini dia dikelilingi oleh orang-orang yang ingin sekali
membunuhnya. Lia teringat Ibunya betapa menyesalnya ia telah menyakiti hati
Ibunya, mungkin bila ia mendengarkan perkataan keluarganya kini dia sedang
duduk manis menonton drama asia kesukaannya bukan di sini menangis berharap
masih bisa hidup.
“
ya Allah, jika memang ini ajal ku izinkan lah aku meminta maaf pada Ibu sebelum
malaikatmu menjemputku. Aku ingin bersujud di kaki Ibu, aku menyesal membuat
Ibu menangis dan bersujud meminta ku untuk berubah. Izinkan
aku................” pinta Lia dalam hati
Kini Lia hanya bisa pasrah, ia hanya
bisa pasrah kepada apapun yang akan dilakukan orang-orang itu terhadapnya. Lia
tak mampu lagi berharap, tak ada lagi pilihan bagi Lia. Tak ada lagi harapan
seperti yang selalu Ayah dan Ibunya berikan.