Minggu, 30 Oktober 2011

cerpen-Give Me A Choise


Give Me A Choise
Malam yang dingin semakin  mencekam. Kini keluarga Bambang sedang duduk terdiam di ruang keluarga. Semua anggota keluarga diam, sesekali mereka saling pandang namun tak kunjung bicara. Sepertinya ada sesuatu hal yang terpendam di masing-masing anggota keluarga.
Ayah yang duduk berdampingan dengan ibu hanya terus menghisap rokok di tangannya. Ibu yang hanya duduk diam, matanya tampak berkaca-kaca dengan segurat kemarahan yang terpendam. Kakak yang duduk berseberangan dengan ayah pun turut diam, suasana di ruangan itu semakin mencekam.
Lia yang duduk menyendiri, hendak beranjak dari bangkunya karena bosan dengan kesunyian ini tiba-tiba terhenti setelah ibu berbicara.
“ Lia ,” kata ibu dengan nada kesal
“ iya, kenapa Lia harus tetap duduk di sini dengan segala kekakuan ini. Lebih baik Lia tidur. ” katanya sambil membaca sms di handphone nya
“ Baiklah, sekarang duduk” Ayah menengahi
Kemudian Lia duduk kembali
“ besok Lia pindah ke rumah nenek di kampung , masuk pesantren di tempat Ayah dulu sekolah. Tidak ada hape, laptop, i-phone, mp3 dan segala fasilitas yang yang kamu miliki sekarang. ” kata Ayah dengan tegas
“ enggak, Lia nggak mau. Kenapa Lia harus pergi? Ayah dengan ibu sudah bosan ngurus Lia. Kalo Ayah dengan Ibu udah bosan ngurus Lia, biar Lia tinggal sendiri aja “ bantah Lia
Ibu yang awalnya dapat menahan kemarahannya kini tidak dapat terkontrol lagi.
“ tidak ada pilihan lagi buat kamu. Lia nggak mau pergi, Lia nggak usah jadi anak ibu lagi “ kata Ibu yang disusul tetesan air mata
“ emang Lia bukan anak Ibu nggak mungkin kalo Lia anak Ibu, Ibu terus saja marah-marah sama Lia, sama temen-temen Lia  dan juga bakar semua baju Lia.” Kata Lia dengan ketus
“ Lia !!” Bentak Ayah
“ kenapa semua orang di rumah ini selalu nyalahin Lia, Lia nggak salah apa-apa. Kenapa semua begitu berlebihan menyikapi tingkah Lia. Emang salah kalo Lia pulang pagi karena ngumpul-ngumpul dengan temen Lia?. Semua orang tua temen Lia fine-fine aja, nggak ada masalah. Kenapa keluarga ini repot banget.” Celoteh Lia
“ sudah cukup Ayah menjelaskan semua alasan kenapa kamu nggak boleh pulang pagi dan segala hal-hal tentang pergaulanmu yang kacau itu. Sudah cukup Ayah ngasih pilihan agar kamu bisa berubah, udah cukup kesempatan Ayah dan Ibu kasih buat kamu. Cukup kesabaran Ayah untuk kamu, kamu pergi besok pagi ke rumah nenek.” Ayah memberi keputusan
Kemudian Ayah dan Ibu pergi meninggalkan ruang keluarga. Lia dan kakak tetap duduk di ruang keluarga saling menatap dengan tatapan dingin.
“ dek , jangan sampai saat kamu menyadari kesalahan kamu dengan Ayah dan Ibu semua sudah terlambat.” Kata Kakak
“ udak deh. Nggak usah nambah-nambahin” kata Lia dengan congkak
“ dosa kamu udah terlalu banyak dek, terutama dengan ibu . Jangan sampai Allah nggak akan ampuni kamu, karena Ibu tidak mau lagi membuka pintu maaf padamu.” Kakak mencoba menasihati
“ what ever!!!!!!!!!!!” celoteh Lia
Kemudian Lia pergi ke kamarnya, di benak Lia kini ia sedang memikirkan bagaimana alasan agar dia tidak pindah ke tempat neneknya. Sampai pada akhirnya pukul 3 pagi, dia kabur dari rumah. Di dalam fikirannya, mungkin orang tuanya akan mengalah setelah Lia kabur dari rumah.
Kini Lia sedang berada di beranda rumah kekasihnya, setelah berhasil kabur dari rumah dia berharap kekasihnya dapat memberikan tumpangan selama dia kabur dari rumah. Namun saat dia masuk ke rumah kekasihnya, dia dikejutkan dengan mendapati keadaan kekasihnya sedang pesta narkoba. Lia yang merasa ketakutan, berlari meninggalkan rumah kekasihnya tersebut.
Tidak di sangka, bandar narkoba yang mengetahui keberadaan Lia mengejarnya. Lia yang ketakutan, terus berlari hingga dia tidak menyadari bahwa ada mobil melintas di jalan yang ia lalui. Lia tertabrak mobil, bandar yang melihat banyak orang yang berkumpul untuk menolong Lia kemudian kabur, karena takut ketahuan identitasnya sebagai bandar diketahui orang-orang yang berkerumun itu.
Keberuntungan mungkin masih bersama Lia. Setelah berhasil kabur dari rumah dan dari bandar yang mengejarnya, kini dia berhasil selamat dari maut. Namun keberuntungannya itu harus dibayar mahal dengan kehilangan satu mata indahnya serta separuh dari wajah mulusnya.
Saat melihat keadaannya sekarang, Lia menjadi histeris di dalam fikirannya hanyalah penyesalan. Mengapa dia kabur, mengapa dia tidak mendengarkan perkataan orang tuanya. Lia yang sedang merasa putus asa, mencoba untuk menghubungi orang tuanya. Karena dia tidak membawa handphone, dia meminjam handphone dari seorang bapak tua yang ada di bangsal bersamanya. Mungkin semua terasa begitu mudah untuk Lia ingin menghapus kesalahan terhadap orang tuanya,tapi tidak pada kenyataannya dari sini lah dia harus belajar arti berjuang dalam hidup. Bukan dipinjamkan handphone, malah bapak itu memberikan sebuah tas pada Lia.
“ pak, saya mau pinjam handphone. Kok di kasih tas ?” tanya Lia kebingungan
“ itu imbalan untuk kamu, atas semua perbuatanmu” kata bapak itu yang kemudian tersenyum sinis kepada Lia
Lia yang kebingungan kemudian ingin mengembalikan tas itu, namun bapak itu malah menolak dan pergi keluar ruangan perawatan di rumah sakit. Lia membuka tas itu , isinya hanyalah beberapa lembar kertas dan kaset.
“apa pentingnya benda ini? Dan kenapa ini menjadi pembalasan untukku ?” Lia bertanya di dalam hati
 Tak lama kemudian Lia mendengar suara tembakan. Lia yang terkejut , kemudian berlari menuju pintu untuk melihat apa yang terjadi.Melalui kaca pintu ruangan tempat dia dirawat dia melihat bapak yang bersamanya tadi sedang tersungkur di hadapan seorang wanita yang menodongkan senjata kearah bapak itu.
“ di mana ?” tanya wanita itu
“ di hatiku” kata bapak itu dengan tertawa
Wanita itu tampaknya di penuhi dengan kemarahan dan tanpa segan wanita yang mengenakan setelan hitam itu menembak kaki kanan bapak itu. Suasana di rumah sakit menjadi kacau orang-orang yang mulanya diam kekakutan, kini berteriak histeris. Asisten wanita itu mengusir orang-orang  yang hendak menolong bapak itu.
“ geledah kamar itu” perintah wanita itu kepada asistennya yang bertubuh kurus serta mengenakan kacamata
          Pria itu memasuki kamar di tempat Lia berada. Lia yang sebelumnya mengetahui pria itu akan masuk sudah bersembunyi terlebih dahulu di dalam toilet. Semua rasa berkumpul di dalam hati Lia, namun rasa ketakutanlah yang  menguasai Lia. Tak lama kemudian pria itu keluar dari kamar itu dengan membawa tas yang di berikan bapak tua itu kepada Lia di tangan kirinya, dan Lia menyusul di belakang. Bukan niat Lia,untuk menyerahkan dirinya bersama tas itu. Tapi dia tidak mempunyai pilihan karena pria itu menodongkan senjata ke kepala Lia.
“singkirkan!!!!!!!!!” perintah wanita itu kepada pria berkacamata yang mencengkram lengan Lia
“ terimalah ini, sebagai pembalasan mu” kata bapak itu kepada Lia
          Lia yang ketakutan kini menangis, dia merasa terjebak. Kenapa bapak itu selalu berkata pembalasan, Lia tak mengerti maksud dari perkataan bapak itu. Malang bagi bapak tua itu setelah mengucapkan kata-kata ngawur , kepalanya di tembak wanita bersenjata itu. Tubuh bapak itu jatuh bersimbah darah.
          Segerombolan orang bersenjata menyadera Lia. Polisi yang hendak menolong Lia pun harus merelakan nyawanya hilang dengan percuma. Lia masuk ke dalam mobil bersama segerombolan orang bersenjata itu, tanpa canggung orang-orang itu memperlihatkan senjatanya memberi tanda mereka tidak segan untuk “menyingkirkan” orang yang ingin menghalangi mereka.
          Saat di perjalanan yang entah kemana tujuannya wanita berpakaian hitam itu, mengikat tas yang diambil paksanya tadi ke tubuh Lia. Lia yang berada di bawah tekanan, hanya bisa menurut. Tibalah mereka di jalan lintas provinsi yang sepi. Lia diturunkan dan di ikat di sebuah pohon. Seorang wanita yang memakai rompi kulit menyiramkan bensin ke tubuh Lia, saat hendak membumi hanguskan Lia polisi dengan persenjataan lengkap muncul mencoba menyelamatkan Lia.
          Saling adu tembak pun terjadi, dengan mengabaikan nyawa masing-masing, mereka tak segan meluncurkan peluru dari senjata mereka. Seorang polisi wanita melepaskan ikatan Lia namun malang nasib bagi polwan itu, setelah berhasil melepaskan ikatan Lia dari pohon nyawanya pun ikut “lepas” tertembak peluru. Saat tubuh polwan itu rubuh, tubuh Lia ikut rubuh tertimpa tubuh polwan itu. Tubuh Lia terguling jatuh ke dalam jurang.
          Untuk beberapa saat Lia tidak sadarkan diri, suara adzan menyadarkan Lia dari “tidurnya”. Lia bersyukur nyawanya masih bisa selamat. Lia mencoba bangkit, untuk mencari pertolongan. Belum sembuh lagi wajah Lia yang terluka kini kaki kirinya ikut tidak berfungsi dengan baik. Cukup lama Lia berjalan sampai menemukan pemukiman warga. Lia tertatih menuju masjid, belum sempat dia melepas lelah seorang penjaga masjid datang menghampirinya dengan membawa sapu di tangan kirinya.
“ hus.hus...hus.” bapak itu mengusir Lia, dengan memukul badan Lia menggunakan sapu
“ kenapa pak ?” tanya Lia
“ hus,, sana orang gila!!!!!” kata bapak itu
“ saya nggak gila pak, saya habis di culik” jelas Lia
          Namun bapak itu tidak mau mendengar, malah kepala Lia menjadi sasaran batu yang di lempar bapak itu. Lia kini hanya bisa menangis, kenapa di saat membutuhkan pertolongan tak ada satupun orang yang mau menolong. Lia bertemu dengan gadis yang sebaya dengannya di jalan. Belum sempat Lia mengutarakan niatnya, gadis itu sudah berteriak ketakutan. Orang-orang yang mendengar jeritan gadis itu berdatangan dan mengusir Lia tak segan-segan bongkahan batu kini terarah kepadanya.
“ orang gila, orang gila, orang gila” sorak segerombolan anak SD yang turut mengusir Lia
Tak ada pilihan bagi Lia, selain pergi dari pemukiman itu. Yang Lia lakukan kini hanya berjalan tanpa tahu arah ke mana ia menuju. Setiap orang yang ia jumpai selalu melakukan hal sama yaitu mengusir Lia, karena Lia diangggap orang gila.
Malam kini hadir, dingin membungkus tubuh Lia, darah yang keluar dari luka-luka yang diterima Lia kini mengering sendiri. Lia putus asa tidak ada tempat lagi untuk dia meminta tolong, tidak ada lagi peluk hangat dari ibu saat Lia sakit tak ada keluarga yang akan menolongnya saat dia butuh. Kini dia hanya berteman bintang dan kesepian. Tubuhnya yang mengalami luka parah hanya mampu bersandar di dinding toko di pinggir jalan.
Tiba-tiba seorang ibu datang menghampiri Lia
“ aduh, kasiannya. Kamu pasti tersesat mari ibu bantu “ kata ibu itu kepada Lia
          Lia yang merasa diberi anugerah pertolongan, dengan semangatnya mau di tolong oleh ibu itu. Lia di ajak ke sebuah salon untuk membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya. Setelah bersih dan luka-lukanya telah di balut, Lia di ajak ke sebuah restauran untuk makan. Lia di minta duduk di meja yang sudah di pilih, sementara Ibu itu memesan makanan. Tak lama kemudian sekelompok orang datang menghampiri Lia.
“ ingat kami gadis kecil ? ” tanya wanita yang mengenakan rok mini
“ kamu pasti terkejut dengan kedatangan kami, kami pun terkejut saat kau sudah melihat isi tas itu. Karena kau sudah memilih untuk membuka tas itu, tak ada lagi pilihan untukmu “ jelas seorang pria yang mengenakan topi
          Ternyata mereka adalah orang yang ingin membunuh Lia tadi siang. Saat pelayan datang memberikan makanan, Lia berfikir ada harapan untuknya agar bisa selamat dari orang-orang jahat itu. Namun keadaan sebaliknyalah yang didapatkan Lia.
“ mangsa baru” kata pelayan itu sambil menaruh makanan
          Wajah Lia yang semula penuh harap, kini berubah menjadi pupus semua yang dia harapkan berbalik menjadi hal yang tidak ia inginkan. Lia kini hanya bisa menangis dan menangis lagi, tidak ada harapan baginya. Kini dia dikelilingi oleh orang-orang yang ingin sekali membunuhnya. Lia teringat Ibunya betapa menyesalnya ia telah menyakiti hati Ibunya, mungkin bila ia mendengarkan perkataan keluarganya kini dia sedang duduk manis menonton drama asia kesukaannya bukan di sini menangis berharap masih bisa hidup.
“ ya Allah, jika memang ini ajal ku izinkan lah aku meminta maaf pada Ibu sebelum malaikatmu menjemputku. Aku ingin bersujud di kaki Ibu, aku menyesal membuat Ibu menangis dan bersujud meminta ku untuk berubah. Izinkan aku................” pinta Lia dalam hati
          Kini Lia hanya bisa pasrah, ia hanya bisa pasrah kepada apapun yang akan dilakukan orang-orang itu terhadapnya. Lia tak mampu lagi berharap, tak ada lagi pilihan bagi Lia. Tak ada lagi harapan seperti yang selalu Ayah dan Ibunya berikan.


Tidak ada komentar: